Judul: The Lady In RedPenulis: Arleen A
Editor: Dini Novita Sari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April, 2016
Halaman: 360 hlm
“Dari Boston Arts aku akan ke SMFA, “ kata Rhonda.
“Apa iti SMFA?” tanya Greg. Namanya terdengar seperti seuatu yang berada di SF. Apakah itu sebuah college dengan fokus art di SF? Tapi apa hubungannya dengan SMFA dengan Boston Arts?
“School of Museum of Fine Arts. Iti salah satu universitas kesenian terbaik, “jawab Rhonda.
“Dan dimana letak SMFA ini?” tanya Greg.
“Di Boston juga,” jawab Rhonda. Hati Greg mencelus. Berarti Rhonda akan terus dan terus tinggal di Boston. Apakah setelah itu ia akan bekerja dan terus tinggal di Boston. Apakah setelah itu ia akan bekerja dan menetap di sana? Lalu menikah dengan seseorang di sana? Dan tidak akan pernah kembali lagi? Apakah ini selamat tinggal? Apakah setelah ini jalan mereka yang sudah bercabang akan semakin jauh dan tidak akan pernah menyatu lagi? Dan tiba-tiba semua itu terlalu berat untuk Greg. Ia menelan ludah dengan susah payah seolah ada sebuah batu yang menyangkut di sana. Hati nya begitu sakit seperti dimasukkan di dalam mesin panen combine harvester yang menghancurkan rumpun jagung utuh menjadi serpihan-serpihan yang begitu kecil. Greg berusaha bangkit berdiri. Ia orang yang kuat dan tubuh nya lentur. Biasanya ia tidak memerlukan tangan sama sekali untuk pindah dari posisi duduk ke posisi berdiri. Tapi saat itu, ia membutuh kan kedua tangan nya untuk menumpu tubuhnya untuk sampai pada posisi berdiri. Setelah berhasil, ia hanya berjalan menjauh, meninggalkan Rhonda begitu saja. (hal 137-138)
Rhonda tahu ia gemuk. Semua temannya bilang seperti itu, dan itu menyebalkan. Di duni ini hanya ada tiga orang yang bilang ia tidak gemuk: papanya, nenek buyutnya yang biasa ia panggil Nana Betty, dan Georgy Drew. Jika saja mamanya masih ada, mungkin akan ada empat orang yang bilang ia tidak gemuk, karena seperti yang ia baca dari buku-buku cerita, seorang mama adalah seperti malaikat yang tidak pernah mengucapkan satu pun hal buruk tentang anak perempuannya. Mama Rhonda meninggal beberapa hari setelah melahirkan Rhonda. Rhonda punya selembar photo yang didapat dari papanya. Sejak kecil, Rhonda suka menggambar dan wajah mamanya adalah yang paling sering di gambar Rhonda, berdasarkan foto yang di milikinya itu. Kata papa Rhonda, bakat Rhonda di dapat dari mamanya.
Bagi Rhonda Wotton Farm adalah rumahnya. Tidak seperti kakaknya, Henry, yang punya sedikit ingatan bahwa ia pernah tinggal di apartemen mereka di San Francisco sewaktu mama mereka masih ada, Rhonda tidak punya ingatan itu karena ia memang tidak pernah tinggal di sana. Nana Betty adalah orang yang paling dekat dan paling di sayang Rhonda. Nana Betty memang sudah tua dan baunya memang seperti bau orang tua, tapi Rhonda suka bau minyak angin bercampur sabun itu. Itu bau yang menemaninya tidur sedari ia bayi.
Greg tidak tahu apakah ia berhak menganggap Wotton Farm adalah rumah nya. Ia tahu tempat itu memang bukan milik keluarganya, tapi keluarganya memang tidak pernah memiliki tanah sendiri. Mereka hanya orang sederhana yang hidup dengan bekerja pada orang lain, melayani orang lain. Sudah seperti itu sejak dulu. Orangtuanya bekerja di Wotton Farm, kakeknya juga, begitu pula kakek buyutnya. Harus berapa generasi lewat sebelum kau boleh menyebut tempat kerja mu sebagai rumah mu?
Ini merupakan Novel pertama yang saya baca yang memiliki cerita dalam 2 periode. Tak butuh waktu lama untuk membaca Nove The Lady in Red ini. Karna selalu ada rasa penasaran dari setiap lembar nya, yang kemudian sayang untuk di lewat kan. Apalagi dengan setting yang menarik yaitu Peternakan Sapi “Wotton Diary Farm”. Saya sangat menikmati nya, hingga lupa kalau novel ini merupakan novel yang di tulis orang Indonesia asli dan bukan novel terjemahan. Di buka dengan kisah Betty dan Thomas yang sangat menarik, tak hanya itu penulis juga mengenalkan beberapa kebiasaan dan kebudayaan Orang-orang Tionghoa karna Betty sendiri adalah gadis keturunan Tionghoa. Kisah kemudian di lanjutkan dengan kisah Jerry dan Wanda yang cukup singkat namun berkesan yang kemudian nanti nya akan memiliki benang merah di antara kedua kisah cinta tersebut. Dan saya yakin jika kalian membaca novel ini kalian akan tertarik dengan cara Jerry untuk menarik perhatian Wanda. Terutama bagi kaum Adam ☺
Karakter Rhonda yang sedikit plimplan dan tak percaya diri akan cinta yang ia miliki terhadap Greg teman atau pelayan nya membuat saya sedikit geram dan greget, apalagi saat Rhonda memutuskan untuk menerima cinta lamaran Brondon, pria yang tak sengaja berkenalan dengannya saat pameran di Boston. Greg, seorang pria yang memiliki mata biru dan sangat mencintai Rhonda namun selalu memiliki pertanyaan akan status nya yang hanya dianggap sebagai pekerja di peternakan Wotton Farm milik Kelurga Rhonda. Hingga ketika mereka tumbuh dewasa dan Rhonda harus mengejar cita-cita nya sebagai seorang pelukis dan memutuskan untuk bersekolah di Boston, Greg merasa kehilangan numun ia tak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaan yang tlah ia rasakan sejak kecil itu. Begitu pula Rhonda yang tak yakin apakah Greg juga mencintai nya. Saya juga sangat gemes dengan Greg yang tak memiliki keberanian untuk menyatakna cinta nya kepada Rhonda. Padahal kedua nya saling mencintai. Tapi, kalau Greg menyatakan cintanya pada saat Rhonda akan sekolah ke Boston maka cerita nya tidak akan seseru ini, hehe. Interlude yang menceritakan “Si Topi Merah” seakan membuat saya bertanya-tanya akan hubungan yang terjalin dalam cerita ini, namun semuanya semakin jelas saat saya mulai memahami apa yang writer ingin sampai kan melalui interlude ini.
Setting tempat yang sedikit berbeda dari cerita-cerita romance lainnya. Yang di latar belakangi oleh tempat peternakan sapi bernama Wotton Diary Farm salah satu perternakan terbesar kedua setelah Stephens Farm, karna memang Cuma ada dua peternakan sapi di sana. Tapi saya sangat suka kedua tempat itu. Tempat dimana ada banyak sapi beserta mesin-mesin pemerah nya, hamparan ladang Jagung, kedelai, dan alfafa. Semua kisah ada di Wotton Farm (karna Stephens farm di beli oleh Wotton Farm), seolah-oleh tempat itu merupakan tempat dimana orang akan jatuh cinta.
Beberapa quote yang saya suka dari Novel “The Lady in Red” ini adalah
Sapi adalah mahluk berperasaan (hal 23)
Terkadang di dalam diam, ada lebih banyak yang kau dengarkan dan kau mengerti, terutama, bila kedua orang yang sedang diam itu mengetahui bahwa dengan dirinya berada di sana saja, itu sudah cukup bagi yang satunya. (hal 53)
Seorang teman tiddak membawakan barang temannya seperti ini. Hanya pelayan yang melakukan ini. Seorang teman berjalan di sisi temannya. Hanya pelayan yang berjalan di belakang seperti ini. (hal 118)
Harusnya bayangan itu sudah memudar setelah sekian tahun lewat, seperti foto yang warnanya pudar karena sekian lama terjemur sinar matahari. Tapi tidak, yang terjadi beberapa tahun silam itu begitu jelas seolah baru terjadi kemarin. (hal 169)
Apakah mungkin kau kehilangan seseorang yang tidak pernah menjadi milikmu sebelum nya? (hal 244)
“Terkadang resiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan” (hal 277)
Labels:
Review Novel

